Senin, 24 November 2014

Bahagiakah Aku?

Pada jaman dahulu kala ada seorang pemuda yang sangat pintar di suatu Kerajaan. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat pintar, karena selalu mencari jawaban ketika ia merasa bingung dan tidak mengerti. Dari waktu ke waktu pemuda ini selalu mencari jawaban sehingga ia memiliki berbagai macam pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tak jarang banyak orang yang menghormatinya, bahkan sang Raja sekalipun.
Pada suatu hari, muncul suatu pertanyaan dalam dirinya. Siapakah orang yang paling bahagia di dunia ini? Pertanyaan itu terus muncul dalam benaknya. Ia buka buku-buku yang ia punyai. Ia pun mencari buku-buku di  berbagai tempat, namun ia tidak menemukan siapa orang yang paling bahagia di dunia ini. Akhirnya ia bertekad untuk mencari tahu sendiri siapa yang paling bahagia di negeri ini.
Ia memulai perjalanannya. Pertama ia berpikir bahwa sang Raja yang adalah penguasa di negeri ini dan juga memiliki banyak kekayaan adalah orang yang paling bahagia. Ia pun menemui sang raja, lalu ia berkata: ”Yang Mulia, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Yang Mulia?” jawab sang raja: “Apa itu anak muda?” Si pemuda itu pun berkata: “Apakah Yang Mulia sangat bahagia dengan kekuasaan dan kekayaan yang ada pada Yang Mulia saat ini?” Rajapun menjawab: “Hmmmm... sayangnya tidak, saya justru sangat takut. Takut bila rakyatku menentangku, takut bila kekayaanku dirampas oleh orang lain, takut bila kerajaanku hancur. Saya takut anak muda, setiap malam saya tidak dapat tidur dengan nyenyak memikirkan hal ini. Saya merasa saya adalah orang yang paling menyedihkan di kerajaan ini.” Si pemuda sangat kaget mendengarnya. Ternyata apa yang dipikirkannya salah besar. Lalu siapa orang yang paling bahagia bila si Raja yang paling berkuasa dan paling kaya saja merasa tidak bahagia, pikir si pemuda. Ia pun dengan berani mencoba melangkahkan kaki pada orang biasa yang mempunyai istri dan anak tetapi tidak kaya. Iapun mulai bertanya kepada Lelaki tersebut: “Apakah bapak bahagia dengan kehidupan yang saat ini sedang bapak jalani?” Bapak itu pun menjawab: “Saya belum bisa merasakan kebahagiaan anak muda. Saya selalu kepikiran untuk membahagiakan istri serta anak-anak saya. Saya masih merasa bersalah untuk hal ini, karena saya belum bisa membahagiakan mereka.” Si pemuda yang mendengar jawaban dari bapak tersebut sangat kaget dan terpukul. Ia pun berjalan lagi dan berpikir dengan sangat keras memikirkan hal itu. Bila orang yang paling kaya dan biasa saja takut akan suatu hal dan belum merasa puas, berarti yang bisa merasakan kebahagiaan adalah seorang biarawan, pikirnya. Pemuda tersebut dengan tegap kembali berjalan mencari seorang biarawan. Tiba di suatu tempat pemuda tersebut berpapasan dengan seorang biarawan. Ia pun dengan cepat bertanya kepada biarawan yang terlihat tergesa-gesa tersebut: “Bapa, Bapa, apakah Bapa bahagia dengan kehidupan Bapa yang sekarang?” Jawab si Biarawan tersebut: “Ya, terkadang saya merasa bahagia, tetapi cenderung saya lebih sering merasa sedih karena saya harus berpikir bagaimana saya bisa mewartakan Kerajaan Allah kepada banyak orang yang berada sangat jauh dan di tempat yang sangat terpencil.” Pemuda itu semakin kebingungan dan merasa sangat lelah dengan pencarian yang dilakukannya.
Pemuda yang putus asa tersebut berjalan dengan lemah ke rumahnya dengan memberi kesimpulan bahwa tidak ada orang yang paling bahagia di dunia ini. Saat di jalan pulang tersebut, ada suara yang sedang menyapanya: “Hai anak muda, kenapa engkau bersedih seperti itu, bukankah engkau masih memiliki waktu yang panjang untuk menjalani hidup ini?” Lalu pemuda itu melihat ke arah suara tersebut dan berkata: “Saya tidak mendapatkan orang yang paling bahagia di hidup ini. Pencarian yang saya lakukan selama ini hanyalah sia-sia.” Pengemis yang hanya berteman dengan pakaian dan selimut itu pun menjawab: “Akulah orang yang paling bahagia di dunia ini.”  “Tidak mungkin,” jawab si pemuda itu. Pengemis itu pun berkata: “Kamu tahu anak muda, aku tidak perlu takut akan kehilangan apapun dari semua yang saya miliki. Namun aku juga tidak merasa kecewa dengan apa yang aku punya ini. Aku bersyukur atas semua yang diberikan Tuhan setiap harinya, walaupun terkadang aku hanya bisa makan kerupuk saja. Bahkan aku tidak takut bila suatu saat aku harus menghadap kepada-Nya, karena aku sudah siap.” Pemuda itu tidak percaya: “Lalu, bagaimana Anda bisa berpikiran seperti itu dengan keadaan yang Anda jalani saat ini?” Pengemis tersebut tersenyum dan berkata: “Ingatlah bahwa itu semua hanya titipan dari-Nya. Dan jangan pernah lupakan satu hal anak muda... Tetaplah berbuat baik kepada semua orang, dan lakukan itu bukan dengan perbuatanmu tetapi lakukanlah itu dengan hatimu. Karena perbuatan baik bagimu belum tentu bagi orang lain, tetapi bila hatimu berkata itu adalah baik, maka baiklah bagi orang lain.”
Pemuda itupun akhirnya pulang dengan sangat senang. Ia pun memahami orang yang paling bahagia di hidup ini dan juga arti dari pencarian makna hidup yang sedang ia jalani kemarin, saat ini, dan esok. Hal terpenting yang selalu ia ingat dari orang yang paling bahagia itu adalah....

“Bersyukurlah setiap saat,
bersyukurlah atas apa yang kamu punyai baik itu kelebihan atau kekuranganmu.
Tetaplah berbuat baik kepada semua orang,
dan lakukan itu bukan dengan perbuatanmu tetapi lakukanlah itu dengan hatimu.
 Karena perbuatan baik bagimu belum tentu bagi orang lain,

 tetapi bila hatimu berkata itu adalah baik, maka baiklah bagi orang lain.”