Bahagiakah
Aku?
Pada jaman dahulu kala ada seorang
pemuda yang sangat pintar di suatu Kerajaan. Ia dikenal sebagai seorang yang
sangat pintar, karena selalu mencari jawaban ketika ia merasa bingung dan tidak
mengerti. Dari waktu ke waktu pemuda ini selalu mencari jawaban sehingga ia
memiliki berbagai macam pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tak
jarang banyak orang yang menghormatinya, bahkan sang Raja sekalipun.
Pada suatu hari, muncul suatu pertanyaan
dalam dirinya. Siapakah orang yang paling bahagia di dunia ini? Pertanyaan itu
terus muncul dalam benaknya. Ia buka buku-buku yang ia punyai. Ia pun mencari
buku-buku di berbagai tempat, namun ia
tidak menemukan siapa orang yang paling bahagia di dunia ini. Akhirnya ia bertekad
untuk mencari tahu sendiri siapa yang paling bahagia di negeri ini.
Ia memulai perjalanannya. Pertama ia
berpikir bahwa sang Raja yang adalah penguasa di negeri ini dan juga memiliki
banyak kekayaan adalah orang yang paling bahagia. Ia pun menemui sang raja,
lalu ia berkata: ”Yang Mulia, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Yang
Mulia?” jawab sang raja: “Apa itu anak muda?” Si pemuda itu pun berkata:
“Apakah Yang Mulia sangat bahagia dengan kekuasaan dan kekayaan yang ada pada
Yang Mulia saat ini?” Rajapun menjawab: “Hmmmm... sayangnya tidak, saya justru
sangat takut. Takut bila rakyatku menentangku, takut bila kekayaanku dirampas
oleh orang lain, takut bila kerajaanku hancur. Saya takut anak muda, setiap
malam saya tidak dapat tidur dengan nyenyak memikirkan hal ini. Saya merasa
saya adalah orang yang paling menyedihkan di kerajaan ini.” Si pemuda sangat
kaget mendengarnya. Ternyata apa yang dipikirkannya salah besar. Lalu siapa
orang yang paling bahagia bila si Raja yang paling berkuasa dan paling kaya
saja merasa tidak bahagia, pikir si pemuda. Ia pun dengan berani mencoba
melangkahkan kaki pada orang biasa yang mempunyai istri dan anak tetapi tidak
kaya. Iapun mulai bertanya kepada Lelaki tersebut: “Apakah bapak bahagia dengan
kehidupan yang saat ini sedang bapak jalani?” Bapak itu pun menjawab: “Saya
belum bisa merasakan kebahagiaan anak muda. Saya selalu kepikiran untuk
membahagiakan istri serta anak-anak saya. Saya masih merasa bersalah untuk hal
ini, karena saya belum bisa membahagiakan mereka.” Si pemuda yang mendengar
jawaban dari bapak tersebut sangat kaget dan terpukul. Ia pun berjalan lagi dan
berpikir dengan sangat keras memikirkan hal itu. Bila orang yang paling kaya
dan biasa saja takut akan suatu hal dan belum merasa puas, berarti yang bisa
merasakan kebahagiaan adalah seorang biarawan, pikirnya. Pemuda tersebut dengan
tegap kembali berjalan mencari seorang biarawan. Tiba di suatu tempat pemuda
tersebut berpapasan dengan seorang biarawan. Ia pun dengan cepat bertanya
kepada biarawan yang terlihat tergesa-gesa tersebut: “Bapa, Bapa, apakah Bapa
bahagia dengan kehidupan Bapa yang sekarang?” Jawab si Biarawan tersebut: “Ya,
terkadang saya merasa bahagia, tetapi cenderung saya lebih sering merasa sedih
karena saya harus berpikir bagaimana saya bisa mewartakan Kerajaan Allah kepada
banyak orang yang berada sangat jauh dan di tempat yang sangat terpencil.” Pemuda
itu semakin kebingungan dan merasa sangat lelah dengan pencarian yang
dilakukannya.
Pemuda yang putus asa tersebut berjalan
dengan lemah ke rumahnya dengan memberi kesimpulan bahwa tidak ada orang yang
paling bahagia di dunia ini. Saat di jalan pulang tersebut, ada suara yang
sedang menyapanya: “Hai anak muda, kenapa engkau bersedih seperti itu, bukankah
engkau masih memiliki waktu yang panjang untuk menjalani hidup ini?” Lalu
pemuda itu melihat ke arah suara tersebut dan berkata: “Saya tidak mendapatkan
orang yang paling bahagia di hidup ini. Pencarian yang saya lakukan selama ini
hanyalah sia-sia.” Pengemis yang hanya berteman dengan pakaian dan selimut itu
pun menjawab: “Akulah orang yang paling bahagia di dunia ini.” “Tidak mungkin,” jawab si pemuda itu.
Pengemis itu pun berkata: “Kamu tahu anak muda, aku tidak perlu takut akan
kehilangan apapun dari semua yang saya miliki. Namun aku juga tidak merasa
kecewa dengan apa yang aku punya ini. Aku bersyukur atas semua yang diberikan
Tuhan setiap harinya, walaupun terkadang aku hanya bisa makan kerupuk saja.
Bahkan aku tidak takut bila suatu saat aku harus menghadap kepada-Nya, karena
aku sudah siap.” Pemuda itu tidak percaya: “Lalu, bagaimana Anda bisa
berpikiran seperti itu dengan keadaan yang Anda jalani saat ini?” Pengemis
tersebut tersenyum dan berkata: “Ingatlah bahwa itu semua hanya titipan
dari-Nya. Dan jangan pernah lupakan satu hal anak muda... Tetaplah berbuat baik
kepada semua orang, dan lakukan itu bukan dengan perbuatanmu tetapi lakukanlah
itu dengan hatimu. Karena perbuatan baik bagimu belum tentu bagi orang lain,
tetapi bila hatimu berkata itu adalah baik, maka baiklah bagi orang lain.”
Pemuda itupun akhirnya pulang dengan
sangat senang. Ia pun memahami orang yang paling bahagia di hidup ini dan juga
arti dari pencarian makna hidup yang sedang ia jalani kemarin, saat ini, dan
esok. Hal terpenting yang selalu ia ingat dari orang yang paling bahagia itu
adalah....
“Bersyukurlah
setiap saat,
bersyukurlah
atas apa yang kamu punyai baik itu kelebihan atau kekuranganmu.
Tetaplah
berbuat baik kepada semua orang,
dan
lakukan itu bukan dengan perbuatanmu tetapi lakukanlah itu dengan hatimu.
Karena perbuatan baik bagimu belum tentu bagi orang
lain,
tetapi bila hatimu berkata itu adalah baik,
maka baiklah bagi orang lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar